My Blog List

Monday, October 5, 2009

Hati yang Terluka

Hati yang Terluka



Wahai, hati yang terluka...
Bacakanlah semua itu dalam keharibaanNya...
Dan katakan kepadaNya: semua ini ku pasrahkan kepada Mu...


Untuk orang bodoh yang membuat Dia terluka....
Tidak sepatutnya Kau mendapatkan untaian tabir hati itu...
Dan alangkah tinggi derajat mu, walaupun kau menyakiti...


Wahai, hati yang terluka...
Sekarang torehkan lembaran baru dalam sajak berjudul "Yang Terbaik Bukanlah Dirimu"....
Dan hapuslah coretan merah dalam perjalanan mu itu..
Niscaya esok hari mimpi dan keinginan mu tertata lebih baik...

Sunday, October 4, 2009

“CINTA BERUJUNG MAUT”

“CINTA BERUJUNG MAUT”


Kekal ku kenang harum kenanganmu
Antara cinta terpendam
Namun kau telah pergi
Ketika ku pandang dirimu kaku
Diam tanpa kata
Kan tersimpan dalam pusara
Sebentar lagi……

Betapa lama waktu
Kubawa asmara terpendam
Tapi mengapa kau pergi?
Saat ku ingin lepaskan rasaku
Agar kau tau

Saat jalan setapak mulai kulangkahkan
Satu demi Satu
Dikejauhan mengantarkanmu
Di situ ragaku terguncang
Di situ ku terkapar
Baru ku tau ku ditabrak
Darahku mengalir deras
Saat itu jua ku hembuskan nafasku
Menemanimu lagi dalam dunia baka…

By : efrinazima


"PUTUS"

“PUTUS”



Putus…putus…kita putus
Yang kau ucapkan tanpa perasaan
Padaku…
Raut muka kebenciannmu kini kau pancarkan
Yang tak pernah terbaca dariku

Saat itu jua kau berlalu
Ku menangis
Gerimis hujan pun mulai temaniku
Dan ku tak berdaya
Dibalik malam kesunyian itu

Lidahku kelu dab bisu
Namun saying itu tak kan kembali
Dan kata putus mungkin hal terbaik
Bagiku maupun dirimu
Seiring waktu berlalu
Ku kan bias terima kenyataan
Walau pahit bagiku


By: efrinazima

Monday, September 28, 2009

Ajari Aku Memeluk Landak

Ajari Aku Memeluk Landak

Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah
dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah.
Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi.
Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang
menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan, tidak dia gubris.

Pukul 18.30. Tinnn… Tiiiinnnnn…!! Cassie kecil melompat girang!
Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dia cintai
itu masuk ke rumah.

Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu mengempaskan diri
di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis
bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga.
Bagi si kecil Cassie juga, yang tentunya belum mengerti banyak. Di
otaknya yang kecil,
Cassie cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan
Papa pulang.

“Mama, mama…. Mama, mama….” Cassie menggerak-gerakkan
tangan. “Mama….” Mama diam saja. Dengan cemas Cassie
bertanya, “Mama sakit ya? Mana yang sakit? Mam, mana yang sakit?”

Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata.
Cassie makin gencar bertanya, “Mama, mama… mana yang sakit? Cassie
ambilin obat ya? Ya? Ya?”

Tiba-tiba… “Cassie!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!”
Mama membentak dengan suara tinggi.

Kaget, Cassie mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya
gemetar. Bingung. Cassie salah apa? Cassie sayang Mama… Cassie
salah apa? Takut-takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati
Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil
Cassie terus bertanya-tanya: Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka
dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama?
Cassie tidak boleh sayang
Mama, ya? Berbagai peristiwa sejenis terjadi. Dan
otak kecil Cassie merekam semuanya.

Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah
tinggi. Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa.

Tin.. Tiiinnn… ! Mama pulang. Papa pulang. Cassie menurunkan kaki
dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan
mengunci pintu. Menghilang dari pandangan.

“Cassie mana?”

“Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya.”

Malam itu mereka kembali hanya makan berdua.
Dalam kesunyian berpikir dengan hati terluka: Mengapa anakku sendiri, yang
kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya
tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku?
Apa dosaku? Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama
orangtua! Tidak seperti jaman dulu.

Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam
diam. Dari jauh. Dari tempat di mana ia tidak akan terluka. “Mama,
Papa, katakan padaku, bagaimana caranya
memeluk seekor landak?”

Tuesday, March 17, 2009

PENANTIAN

Penantian

Aku berdiri di ambang kebimbangan
Menunggu kepastian
Inginkan kau datang
Aku tak tahu perasaanmu
Masihkah kau membenciku
Karna aku selalu mengejarmu

Diriku ini tak pantas untukmu
Tapi yang ku inginkan hanya satu
Yaitu menjadi teman baikmu

Tak dapatkah kau seperti dulu
Selalu tersenyum padaku
Tidak pernah membuang muka
Saat melihatku ada

Sekarang kau sangat jauh dariku
Dan kau berpaling dariku
Menganggapku sebagi musuhmu
Kasihku pulanglah padaku.........

Friday, March 13, 2009

Kepergianku

Kepergianku

Bila tiba sisa nafasku dibatas waktu
Saat Sang Utusa merengkuh jiwaku
Tak usah kau tangisi
Kepergianku menempuh ujung



MY FIRST POETRY

UNTUKMU

KETIKA KAU TEBAR SENYUM ITU
PADAKU............
TAU KAH KAU, RESAH ITU DATANG
TANPA KUUNDANG.............

ADA MIMPI-MIMPI
YANG TAK BIASA
ADA GELISAH
YANG TAK KUNJUNG REDA

KU TAK INGIN DUSTAI
HATI DAN DIRI SENDIRI
KU INGIN KAU MENGERTI
SEBUH CINTA TELAH HADIR
DI HARI INI..................